Esquire Theme by Matthew Buchanan
Social icons by Tim van Damme

07

Mar

No Country For Old Barton Fink

Joel & Ethan Coen, satu dari segelintir sutradara Hollywood yang konsisten menelurkan karya-karya berkualitas.

Tahun 1991, film mereka yang dibintangi John Turturro, Barton Fink, merajai ajang bergengsi, Cannes Film Festival. Mereka melakukan sapu bersih (sesuatu yang jarang terjadi), menyabet Palme d’Or untuk film terbaik, Best Actor untuk John, serta Sutradara Terbaik.

Tahun 2007, No Country for Old Men, film adaptasi mereka merajai Oscar. Lewat film ini, Javier Bardem merebut Oscar untuk Best Supporting Actor (nominasi aneh, secara durasi karakter Javier, Anton Chigurh, tampil di layar paling banyak dari semua aktor utama, dan narasi film nyatanya bergerak dari POV semua aktor utama loh..)

Oke, sekali lagi ini tulisan iseng. Jadi kalau anda tersinggung, itu bukan urusan saya.

***

Barton Fink aslinya penulis skenario teater. Setelah kesuksesan karya terakhirnya, ia ditarik ke Hollywood untuk menulis skenario film gulat. Well, bayangin orang yang tadinya biasa nulis menye-menye tiba-tiba dibayar untuk nulis darah dan doa (loh, kok kayak judul film Usmar Ismail? :p)..

Barton percaya pada keistimewaan tema “common man”. Baginya, tema itu adalah realita sehari-hari, yang sehari-harinya berjuang menjadi realita. It’s real! It’s measured! It’s a dick! (oke, skip..)

Bagi yang udah nonton filmnya, Barton diberikan sebuah kotak oleh John Goodman. Dia diminta menjaga kotak itu, yang tak jelas isinya apa. Akhirnya, mau tak mau, Barton selalu membawa kotak itu kemana-mana, bahkan sampai film selesai dan penonton pulang dan penjaga bioskop bersih-bersih dan lanjut film lain dan……

Intinya, gue cuma mau nanya, kira-kira isi kotak itu apa ya??

***

“Kepo adalah akar dari segala masalah”

Gara-gara Llewelyn Moss kepo, tatanan dunia rusak. IYA, RUSAK, R-U-S-A-K! Dia melepas setan antah berantah bersenjatakan tabung hidrogen(?) dan koin usang bernama Anton Chigurh, serta membuka mata sheriff tua bernama Ed Tom Bell bahwa dunia tak cocok lagi buat dia (dari judul kan udah ketahuan, bisa bahasa Inggris gak sih?).

Singkat cerita, Llewelyn mati. Tapi dia keburu mendaftarkan istrinya, Carla Jean, masuk dalam lingkaran si setan Anton, makanya di akhir film Anton mendatangi Carla sambil memainkan senjata pamungkasnya : undian hidup-mati via koin.

Masalahnya, sampai film selesai dan penonton pulang dan penjaga bioskop bersih-bersih dan lanjut film lain dan……, kita tak tahu apakah Carla Jean menyusul suaminya ke akhirat atau suaminya yang nyusul dia ke dunia (eh?), yang diberi tahu cuma sepulang dari rumah Carla, Anton kecelakaan. Tangannya patah, tulangnya keluar, tapi dia tetap idup, BISA JALAN PULAK! *tepuk tangan*

Terus, nasib Carla Jean gimana??

***

Ada 2 jawaban untuk 2 pertanyaan itu.

1) Anton ketemu sama Barton di tengah jalan. Mereka cipika-cipiki, terus Anton (karena sadar ceritanya udah abis) berniat bikin biografi. Ide ini cocok dengan kondisi Barton yang merana sehabis dipecat plus keyakinannya yang memuja setinggi langit tema “common man”. Maka, mereka pun menandatangani kontrak. Barton Fink beralih profesi menjadi seorang penulis biografi setan dunia. Jadi kotak itu isinya masa lalu si Barton sama si Anton, plus nanti ada si Popon, si Cobon, sama si Kelon.

2) Isi kepala itu ya kotaknya Carla Jean. Susah amat?

After all, why so serious? :)

***

20

Feb

Review film Negeri 5 Menara

Pilihan Kelas Kehidupan

            Saya memang belum membaca novelnya. Dan karena alasan itu pula, saya bersyukur dapat menyaksikan filmnya tanpa merasa terkungkung di ruangan sempit bertajuk adaptasi dengan dinding-dinding yang terus bergerak menghimpit berjuluk ekspektasi.

            Menonton film Negeri 5 Menara menghadirkan dua perasaan kuat dalam benak saya. Perasaan pertama adalah kesan déjà-vu. Beberapa elemen film ini mengingatkan saya pada film inspiratif serupa tapi tak sama, Laskar Pelangi (2008) yang kini duduk di deretan box office terlaris Indonesia sepanjang masa. Cita-cita sekolah di Jawa (secara spesifik : masuk ke universitas negeri), kisah persahabatan sekumpulan anak-anak, nasib “kurang beruntung” yang “kebetulan” disandang oleh anak tercerdas dalam kumpulan tersebut, pertunjukan seni yang menjadi wadah ekspresi diri sekaligus pelampiasan terhadap realitas, hingga kesamaan pandangan terhadap sekolah sebagai sarana untuk mencapai kesuksesan, menjadi contoh gamblang representasi kesan tersebut.

            Lalu apa yang membedakan karya Riri Riza nan fenomenal itu dengan film ini?

            Jika Laskar Pelangi menawarkan sekolah sebagai alat melawan kemiskinan, Negeri 5 Menara tidak. Tak satupun karakter dalam film ini tampil “miskin”. Konflik batin tentang pendidikan yang dialami sang tokoh utama, Alif, juga jauh dari disfungsi ekonomi. Pergumulan Alif lebih ke arah keinginan hakiki yang berasal dari dalam diri, bukan lagi pergumulan yang disetir oleh motivasi tertentu yang terlanjur mengakar kuat namun berasal dari luar dirinya.

            Di sini lah perasaan kedua saya hadir. Alif, seperti saya dan anda, adalah manusia yang pada hampir tiap momen kehidupannya menghadapi pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan. Sebagian bermakna, sisanya sia-sia. Beberapa menyangkut hidup dan mati, lainnya sekedar lewat demi menunjukkan eksistensi. Apakah dia berani mengambil keputusan drastis yang berlawanan dari keinginan sang ibunda? Apakah dia berhasil mengatasi rasa iri yang timbul setelah membaca cerita-cerita seru dalam surat-surat teman sekampungnya yang sekolah di Jawa? Mampukah dia beradaptasi dengan baik di lingkungan pesantren nan ketat? Kenapa dia tak sanggup “menyatakan” perasaannya pada keponakan jelita Kyai Rais?

            Sekali lagi, tanpa membawa bekal yang hanya bisa diperoleh setelah membaca novelnya, saya mencoba menelaah dinamika pilihan demi pilihan tersebut. Perlahan-lahan, akibat kehadiran pilihan-pilihan itu, film ini jadi terasa merakyat. Berbeda sekali dengan Laskar Pelangi yang menyimpan iming-iming sebagai hakikat pelipur lara masyarakat. Saya secara tak sadar mulai terbius masuk dalam dunia sekitar Alif tanpa harus menjadi Muslim dahulu atau menjadi orang Minang dahulu untuk merasakan kepelikan yang ia alami.

            Orangtua Alif adalah representasi golongan konvensional. Mereka mendorong terwujudnya keinginan tanpa melakukan pemaksaan. Lulu Tobing hadir sebagai figur ibu yang bijaksana, jauh melampaui apa yang mungkin terlihat orang biasa dari penampilan sehari-harinya. Ia mampu mengarahkan sang anak untuk mengejar mimpinya sendiri ketika keadaan tak lagi berpihak pada keinginannya. Ini adalah sebuah paradoks positif. Sebentuk demokrasi sederhana dalam keluarga yang menjunjung tinggi agama (dan adat?).

            Tak banyak anak-anak yang sempat mengecap pilihan sebanyak Alif. Lulus di salah satu pesantren terbaik di seantero negeri bukanlah prestasi main-main, apalagi ketika si oknum lulusan mencapai hal tersebut awalnya bukan atas kehendak pribadi. Saat masih bergumul, Alif juga “diberi” kesempatan berlibur ke Bandung, bahkan ia sempat menginjakkan kaki di kampus impiannya, serta mendengar idola hidupnya, Habibie, berceramah secara langsung.

            Namun kenyataannya, Alif, sebagai representasi generasi terkini, “nekat” untuk tetap bertahan di Pondok Madani, bahkan ketika seluruh pintu keluar telah terbuka buatnya. Sebuah perjudian? Saya lebih suka menyebutnya kedewasaan. Atas dasar itu pula lah, saya juga lambat laun mengagumi sosok Alif ini. Di umurnya yang masih belia, ia telah mendemonstrasikan kedewasaan mental luar biasa. Ia membuktikan mampu mengemban tanggung jawab sosial pada kelima sahabatnya, terlebih tanggung jawab personal pada dirinya sendiri.

            Apa yang membuat Alif mantap dengan keputusan “nekat”nya? Bagi saya, di sini lah kata-kata mujarab “Man Jadda Wajada” benar-benar mengeluarkan keajaibannya. Bukan yang tajam, tapi yang sungguh-sungguh yang akan berhasil. Karena dalam perspektif kata ini, kemungkinan seorang alumni Pondok Madani bisa duduk semeja dengan lulusan ITB yang paling jenius adalah SANGAT BESAR.

            Pada akhirnya, Alif telah memilih kelas kehidupannya : Pondok Madani. Di sana lah ia akan ditempa sekaligus menempa, supaya ketika saatnya tiba kelak, ia akan menjadi seorang manusia bijaksana yang mencetuskan perubahan-perubahan eksepsional bagi negerinya. Alif telah  mengawali proses pembentukan karakternya dengan sangat baik. Maka tak usah lah terburu-buru, nikmati saja proses pembentukan itu.

“Takkan lari kelas itu kau kejar!” - Alif

Negeri 5 Menara

Sutradara : Affandi Abdul Rachman

Penulis : Salman Aristo

Cast : Ikang Fawzi, Lulu Tobing, David Chalik, Donny Alamsyah, Ariyo Wahab, Andhika Pratama, Gazza Zubizareta, Billy Sandy, Ernest Samudra, Rizki Ramdani, Jiofani Lubis, Aris Putra, Eriska Rein, Sakurta Ginting

16

Oct

The past can always hurt if you’re not trying to make peace with it. Nice dialogue! :)

26

Sep

12

Sep

(Source: icanread)

09

Aug

startupquote:

It’s simple until you make it complicated.
- Jason Fried

startupquote:

It’s simple until you make it complicated.

- Jason Fried

wizardswitcheshobbitsandthrones:

● Tone of surprise - Ron & Hermione

By: LadySteena

kichong:

<3

kichong:

<3

(Source: worldisnotenough)